Di Luar atau di Dalam Rumah, Mana yang Buatmu Nyaman, Bu?

Seorang perempuan jika sudah menjadi ibu rumah tangga dituntut bisa melakukan berbagai hal seperti harus pandai mengatur waktu, keuangan, mengurus rumah, anak-anak, suami, dan lain sebagainya. Bahkan dalam kondisi tertentu diharapkan bisa membantu keuangan keluarga dengan ikut mencari nafkah.

Namun banyak pula perempuan masa kini yang berdalih bahwa pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan seputar urusan rumah lainnya bukanlah kewajibannya. Menurut saya pernyataan tersebut tidak sepenunya benar.

 Tapi jika boleh bicara dari hati ke hati, adakah naluri kita sebagai perempuan ingin bisa melayani semua kebutuhan anak dan suami ketika di rumah?

Lalu bagaimana dengan seorang istri yang ikut bekerja di luar untuk membantu suami mencari nafkah? Pekerjaan yang meliputi urusan sumur, dapur, dan kasur, siapa yang akan menyelesaikannya?

Akankah diserahkan kepada orang lain seperti asisten rumah tangga? Salahkah itu? Tentu tidak. Jika memiliki dana lebih, silahkan saja. Setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda, tidak hanya bisa dilihat dari satu sudut pandang saja.

Mari kita coba perhatikan bersama kedua kondisi yang berbeda, yaitu antara seorang istri yang full di rumah dengan seorang istri yang bekerja di luar. Namun kondisi ini tidak untuk diperdebatkan, yah. Semua ada plus minusnya, silahkan ambil yang menurut kita nyaman.

 

Ibu Rumah Tangga yang Full di Rumah

Jika seorang istri di rumah, mungkin semua tugas rumah tangga dapat diselesaikan dengan baik. Saya bilang mungkin, karena tidak semua seperti itu. Bisa saja dalam hal urusan masakan, sang istri lebih memilih untuk memesan makanan online, mencuci dan menyetrika diserahkan ke laundry, atau bahkan semua pekerjaan rumah diberikan ke asisten rumah tangga.  Banyak faktor, bisa jadi karena seorang istri memiliki banyak anak, agar tidak terlalu lelah jadi dia lebih memilih mendelegasikan semua pekerjaan rumah tangga kepada orang lain. Biasanya loh, yah. Tidak semua.

Tapi setidaknya jika istri full di rumah meskipun disambil mengerjakan suatu usaha atau bisnis, beberapa pekerjaan rumah tangga lain masih bisa teratasi. Dan yang terpenting punya waktu lebih banyak untuk anak-anaknya, bermain dan belajar bersama. Pada saat suaminya membutuhkan bantuan, dia memiliki keluangan waktu untuk memenuhi hal tersebut.

 

Ibu Rumah Tangga yang Bekerja di Luar Rumah

Lalu bagaimana dengan kondisi jika istri bekerja di luar, akankah semua pekerjaan rumah tangga bisa dikondisikan? Jawabannya mungkin iya atau tidak.

Bekerja di luar rumah setengah hari atau bahkan sepanjang hari, tentu akan sangat menguras energi dan pikiran seorang perempuan. Lalu bagaimana dia bisa mengerjakan urusan rumah tangga  jika raganya sudah lelah dengan aktivitas di luar? Diserahkan ke orang lain kah? Bisa jadi.

Mampukah hati seorang ibu masih bisa sabar dan lapang mendampingi anak-anaknya belajar di malam hari dengan kondisi fisik yang lelah dan jiwa yang sudah penat?

Jika pun berniat resign dari pekerajaannya karena ingin bisa full di rumah, itu bukanlah hal yang mudah. Kekhawatiran tidak akan mendapat penghasilan lagi akan senantiasa menghantui. Terlebih bagi seorang istri yang bekerja untuk membantu keuangan keluarga dan ingin memberikan nafkah untuk orang tuanya. Namun jika tidak segera resign, akan ada efek psikologis yang kurang baik bagi jiwa anak-anaknya yang masih kecil karena kurang kasih sayang dan perhatian dari sang ibu.

 

Lalu Bagaimana Solusiya?

Coba pelan-pelan saja, Bu. Bisa direncanakan secara matang hal apa saja yang akan dilakukan ke depannya jika sudah tidak bekerja di luar. Mungkin bisa dimulai dengan merintis usaha sampingan. Untuk membangun suatu bisnis memang tidak mudah, tapi segala sesuatunya harus dimulai. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Coba alokasikan waktu satu jam sehari di luar jam kantor untuk menjalankan bisnis. Bisa dengan berjualan online atau menawarkan jasa yang Anda bisa, seperti jasa desain, membuat masakan, atau hal lainnya. Sisihkan pula modal misal dari gaji bulanan untuk memulai bisnis Anda.

Akan ada tenanga extra memang, tapi inilah pilihan hidup. Ingin hasil yang berbeda, lakukan pula proses yang berbeda.

Selain itu perlu tekad dan keyakinan yang kuat agar hati mantap mengambil langkah ini. Yakin Allah Maha Mengatur rezeki, tidak hanya dari tempat Anda bekerja sekarang.

Uang bisa dicari, tapi waktu tak dapat kembali. Masa kecil anak-anakmu tak akan pernah terganti wahai, Ibu.

Bagaimana seorang ibu akan bisa melahirkan generasi-generasi berkualitas jika ia sibuk di luar? Sedangkan pendidikan utama ada di rumah bersama orang tua, terutama ibu. Sebagai orang tua kita harus menyadari bahwa sesungguhnya sekolah hanyalah penunjang pendidikan anak-anak, karena sejatinya pendidikan utama adalah di lingkungan keluarga sendiri.

Pikirkan pula bahwa anak adalah amanah yang harus diprioritaskan, bagaimana kelak ketika kita dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Swt jika lalai menjaga pemberian-Nya? Perlu hati yang mencintai syariat untuk memahami dan menerapkan semua ini wahai ibu.

Mungkin kita berfikir, bukankah kaum perempuan dan laki-laki adalah sama-sama hamba Allah dan memiliki hak yang sama, lalu kenapa harus ada perbedaan? Allah sendiri yang menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Dia yang menciptakan, Dia juga yang lebih mengerti kondisi kita. Pada keduanya ada perbedaan hak dan kewajiban yang sesungguhnya sama-sama baik untuk masing-masing pihak.

Terlepas dari semua itu, boleh ya kalau sedikit curhat bahwa pada sekitar tahun 2013 sebelum menikah, saya dulu juga wanita karir. Hari demi hari dilalui, rasa penat, bosan, jenuh bekerja dari pagi hingga petang kerap kali menghampiri. Dalam hati berpikir, bagaimana nanti kalau saya sudah menikah dan punya anak tapi masih sibuk bekerja? Kasihan anak-anak saya nanti jika kurang perhatian dan kasih sayang karena waktu ibunya dihabiskan untuk bekerja di kantor.

Sejak saat itu saya bertekad kalau diri ini tidak boleh berlama-lama bekerja di luar. Dua atau tiga tahun ke depan, saya sudah harus ada kegiatan lain (pekerjaan) yang bisa dikerjakan dan menghasilkan dari rumah. Karena jika sudah menikah, prioritas saya adalah waktu untuk suami dan anak-anak.

Kala itu saya bekerja di perusahaan periklanan, sering bertemu langsung dengan para pengusaha. Saya berpikir, kira-kira kerjasama apa yang bisa ditawarkan secara pribadi, selain saya menawarkan kerjasama iklan untuk liputan media tugas dari kantor? Selama itu halal dan tidak menyalahi aturan perusahaan, saya kerjakan demi masa depan yang lebih baik.

Nah, berhubung lulusan IT, saya menawarkan kerjasama pembuatan website untuk usaha mereka. Dan alhamdulillah hal tersebut disambut baik oleh beberapa client yang sudah kenal dekat dengan saya.

Makin hari, kian banyak yang berkeinginan membuat website kepada saya. Hingga saya merasa sudah punya bekal alias penghasilan pengganti jika tidak bekerja di kantor, saya pun resign dari perusahaan tersebut. Dan kini ketika sudah punya satu anak, alhamdulillah orderan pembuatan website masih saya terima hingga sekarang. Saya bisa full bekerja di rumah, tetap bisa mengurus anak dan suami. Serta mengurus semua pekerjaan rumah tangga tanpa asisten.

Menikmati kerepotan mengurus rumah tangga, mengurus bayi sendiri, alhamdulillah saya menjalaninya dengan bahagia. Tidak sampai hati, jika saya harus menyerahkan anak yang masih bayi ke tangan orang lain. Untuk apa saya berpendidikan tinggi tapi dengan begitu saja mempercayakan pengasuhan anak saya kepada orang lain?

Nikmati saja, akan ada masanya jika anak-anak sudah besar nanti, kita akan bisa melakukan banyak aktivitas di luar. Bahkan kita akan merindukan suasana direpotkan oleh mereka. Karena kala itu, mungkin hanya rasa sepi yang mendera di hati jika mereka telah pergi menuntut ilmu atau hidup bersama pasangannya masing-masing.

Masih teringat jelas perkataan dari seorang motivator Bapak Valentino Dinci, bahwa dalam hidup kita harus memiliki tiga  hal yaitu : pendidikan agama, pekerjaan, dan keahlian. Jika salah satu atau dua di antaranya tidak ada, yang satu lagi bisa kita gunakan untuk keberlansungan hidup (mencari nafkah).

Jika kita sedang tidak punya pekerjaan dan keahlian, ada iman yang kita jaga agar tetap bisa sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Dan itu didapatkan dari pendidikan agama.

Jika kita hanya memiliki pekerjaan namun pendidikan agama dan keahlian minim bahkan tidak ada, setidaknya kita punya pekerjaan untuk menyambung hidup.

Jika pendidikan agama dan pekerjaan kita tidak punya, setidaknya ada keahlian yang kita punya untuk mencari rezeki melalui jasa yang bisa ditawarkan ke orang lain.

Dan, bersyukurlah jika Anda memiliki ketiganya.

Kebanyakan naluri seorang ibu, pasti ingin punya lebih banyak waktu di rumah, dekat dengan anak-anaknya, dan ingin bisa melayani suami sepenuh waktu. Semua kembali pada pilihan masing-masing, ada konsekuensi di setiap keputusan.

Namun kalau boleh saya meminta, kapan engkau “sepenuhnya pulang” ke rumah untuk suami dan anak-anakmu wahai, Ibu? Dunia luar sangat keras, kurang cocok dengan kelembutan fitrahmu, Bu.

Dari sahabatmu yang juga seorang ibu.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *